PANGGILAN
TAK TERDUGA
Kesunyian
malam mulai terbenam dengan kelembutan angin yang menerpa pepehonan alam, bak
kerinduan hati yang tergantikan akan indahnya kasih sayang seorang ibu.
“Irham,
bangun nak ! Shalat subuh dulu.” Panggil ibu Maryam membangunkan anaknya.
“Umm...
ia bu, bentar lagi... !” Jawab Irham dengan suara terbata-bata dan mata
terttutup.
“Sudah
jam 6.30 nak, shalat dulu. Nanti keburu siang !” Seru ibu mengusap-usap kepala
anaknya.
“Ea..
ea... bu, Irham bangun !”
Irham
menuju kamar mandi untuk mengambil wudhuk dan melaksanakan shalat subuh. Ibu
Maryam tidak tinggal diam, ia pun menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi
bagi suami dan anak-anaknya.
“Bu...
Kak Mina dimana ? Kok pagi-pagi begini gak ada dirumah”. Tanya Irham yang baru
keluar dari kamar musalla.
“kakakmu...
lagi cuci baju nak, disungai belakang”. Jawab ibu yang sedang memotong bawang
merah untuk menggoreng telur.
Rumah
Irham termasuk rumah yang sederhana dan letaknya strategis, di belakang
rumahnya ada sebuah sungai yang sering digunakan oleh orang-orang kampung,
khususnya ibu-ibu rumah tangga untuk mencuci baju.
Jarum
jam menunjukkan pukul 07.00 pagi diiringi sinar mentari yang mengintip di balik
pepohonan dan kegelapan pun mulai menghilang bersama desakan-desakan mentari
yang datang dengan sinar indah mencerahkan pagi.
“Bu...
!” Panggil Pak Amin kepada istrinya.
“Ea..
pak ! Bapak mau kemana ? Kok dah siap-siap begini !”
“Bapak
mau ke kebun dulu”.
“Yach..
Bapak kan belum sarapan !?” Seru Ibu Maryam dengan nada khawatir.
“Nanti,
pulang dari kebun.Cuma pergi sebentar aja kok bu.” Bapak coba menenangkan ibu.
“Ya
sudah, hati-hati Pak. Kalau sudah siap langsung pulang ya !”.
Bapak
ambil mengambil parang di lemari dapur dan langsung berangkat ke kebun yang
tidak jauh dari depan rumahnya. Sementara Ibu Maryam menuju ke kamar mandi untuk
mengambil wudhuk karena ingin Shalat
Dhuah yang sudah menjadi kebiasaannya. Kedua anaknya sedang sarapan sebelum
berangkat ke tugasnya masing-masing. Irham duduk di kelas 2 MAN sedangkan Kakaknya
serorang guru di sebuah sekolah menengah di daerahnya.
“Kakak....”
Suara panggilan dari Ibu Maryam dengan nada lemah.
“Uwan..
bu. Mina mau berangkat ne... “ Jawab Kakak Irham yang sedang mengunci pintu
kamar.
“Sini
dulu nak”.
Mina
pun melangkah ke kamar mushalla untuk menemui ibunya.
“Ada
apa bu ?”
“Ibu
seperti kurang sehat nak, gak tahu
tiba-tiba badan ibu lemah sekali”.
“Ibu
sudah sarapan ?”
“Sudah
nak. Tolong buatin air manis buat ibu.”
Bergegas
Mina menuju dapur untuk membuat air manis permintaan ibunya.
“Ini
bu !” Mina memberikan air gula buatannya sambil meminumkannya.
“Eheekkk...
heek...kkkk... “ Suara Ibu Maryam yang tiba-tiba seperti orang sekarat.
“Bu...
Ibu kenapa ?” Suara Mina dihantui perasaan cemas.
“Ibu
kenapa ?” Mina menangis sambil memeluk erat ibunya.
Mina
berlari keluar kamar walau hatinya tak tega meninggalkan ibunya sendirian.
“Bang...,
tolong Bang ! Tolongin ibu saya... “. Mina memanggil histeris orang-orang
kampung yang sedang lewat di depan rumahnya.
Tanpa
bertanya orang-orang itu langsung masuk dengan perasaan khawatir, sampai di
kamar langsung memopong Ibu Maryam.
“Bapakmu
kemana dek ?” Tanya salah seorang dari mereka kepada Mina.
“Ke
kebun depan” jawab Mina singkat dengan air mata terus mengalir di pipinya.
Bang
Anwar tetangga terdekat yang tadi bersama orang-orang langsung ke kebun untuk
mencari Bapak Mina.
“Pak
Amin, Istri Bapak sakit keras”.
“Haah,
yang benar Anwar ? Jawab Pak Amin seperti tidak percaya.
“Benar
Pak. Cepatan pulang... !!!”
Pak
Amin yang tiba-tiba dihantui rasa cemas dan khawatir langsung meninggalkan
pekerjaannya dan bergegas kembali ke rumah. Sesampia di rumah, istrinya sudah
dikeluarkan dari rumah dengan maksud ingin membawanya ke rumah sakit. Pak Amin
rasanya masih tak percaya, baru 20 menit ia meninggalkan rumah dalam keadaan
baik-baik saja. “Tapi.. kenapa bisa berubah secepat ini ?”
###
Kebisingan
mobil mengikuti kekhawatiran, hanya doa yang dapat dikirmkan kepada Ibu yang
sedang berjuang antara hidup atau menutup mata untuk selamanya. Tidak terasa
keringat dan air mata kesedihan bercucuran membasahi, pikiran tak karuan seolah
keinginan untuk melihat ibu kembali sadar tidak akan terwujud.
“Bu..,
bangun bu !!” Suara Irham yang baru pulang dari sekolah duduk di samping
Ibunya.
“Bu...
ibu bangun ya...” Bisik Kakak Irham yang sejak tadi pagi menemani Ibunya bersama Ayah.
“Nak,
ibu pasti bangun. Ibumu Cuma butuh istirahat saja.” Suara pak Amin dari sudut
ruangan sambil mendekati anaknya.
“Nak,
sebaiknya kita Shalat Dhuhur dulu sambil berdoa untuk kesembuhan ibumu”. Lanjut
Ayah sambil memeluk dua permata hatinya.
“Ia..
Pak !” Mina menghapus air matanya sambil mengajak adeknya untuk mengambil
wudhuk. Mereka keluar ruang Ibu Maryam dengan hati tak tega dan langkah yang
tak pasti karena hanya kecemasan yang melintas di benak mereka.
Keramaian
dan ratapan memenuhi gedung putih yang diiringi zikir dari bibir-bibir insan
yang mengharap anugerah dan kasih sayang Nya, kepada hamba yang sedang
membutuhkannya.
“Allahu
akbar.”
Suara
Pak Amin yang sedang Shalat bersama anak-anaknya di ruang rawat itu. Sesudahshalat
Pak Amin langsung mendekat Ibu Maryam sambil mengantarkan kalimah-kalimah thaibah di sampingnya. Sedangkan Irham dan Mina langsung
membaca surat Yassin dengan harapan
semoga Allah memberi kekuatan kepada Ibu mereka dan bisa melewati cobaan ini.
“Haaaakk...
akkkh !!” Suara desis dari mulut Ibu Maryam.
Keadaannya terlihat semakin parah. Detak jantungnya tidak stabil, membuat suasana semakin menegangkan.
“Bu...
! Ibu ... !!” Raung Irham dan Mina yang terkejut dengan keadaan ibunya.
Pak
Amin langsung keluar dengan maksud memanggil dokter karena milihat keadaan
istrinya semakin parah.
“Nak...
sabar nak ... ! Ibumu akan segera membaik. “ Bisik Pak Amin dari belakang
anaknya yang ditemani seornag dokter.
“Dek,
sabar ya.” Dokter menguatkan Irham sambil memeriksa Ibu Maryam.
Ketegangan
demi ketegangan memenuhi ruangan itu. Air mata pengharapan seolah tak punya
daya untuk melawan semua itu. Hati berdebar dengan kecemasan memuncak memenuhi
benak Irham. Ia tidak bisa melawan rasa takut akan mata ibunya tertutup
selama-lamanya.
“Pak
!” Panggil dokter kepada Pak Amin.
‘Iya,
bagaimana Dok ?”
“Mohon
maaf pak... Semua ini sudah takdir. Cuma ini yang dapat kami lakukan, Bapak
sabar ya.” Ucap dokter dengan nada ragu.
“Innalillahi
wainna ilaihi rajiun...”
“Ibuuu...”
Suara serentak antara Irham dan Kakaknya memecah kesunyian.
“Sabar
nak, tabahkan hatimu. Ibu sudah tenang nak... !” Pak Amin mencoba menenangkan
putra-putinya.
“Ibu...
Ibu
jangan pergi...
Ibu
jangan tinggalkan Irham, Bu..
Irham
sayang sama Ibu
Irham
gak mau kehilangan Ibu.
Ibu...
ibuuuu...!!!”
###
Kesedihan
menyelimuti Irham. Jiwanya melayang bersama harapan yang tak kunjung tercapai.
Batin suci bergerak menopang raga yang tak berdaya. Air mata kasih sayang
menembus jaringan sel darah terhenti seolah ikut merasakan. Otot badan mencoba
berkontraksi dengan gerakan sendi yang saling melengkapi. Tapi, apalah daya
ketika sumber jiwa sudah tak tersentuh, jiwa kehilangan remot kontrol – tak
dapat lagi berjalan - seakan komponen
tubuh mati tak berdaya. Batin lemah, perasaan di selimuti rasa ingin bersama
orang yang di sayangi. Itulah bahasa tubuh Irham seakan mencoba menceritakan
apa yang di rasa.
Irham
tidak sanggup menahan desakan jiwa yang kehilangan arah, hanya keajaiban datang
yang diharapkan. “Tapi apakah itu mungkin ?”.
Hati
Irham melumat kasih sayang yang hendak terkubur bersama kenangan indah masa
lalu. Hati terus mendesak jalan aliran darah yang berkontraksi begitu cepat.
Tak tahu apa yang ingin dinampakkan, tapi desakan itu mempunyai arti yang ingin
disampaikan.
Hati
Irham seolah berkata “Ibu... kasihmu
takkan terganti. Aku tak percaya akan semua ini. Kenapa ini terjadi padaku ?. Ibu, kenapa ibu pergi ?
Kenapa Ibu pergi setelah memberikan semuanya padaku. Di saat aku sudah siap
menatap masa depan yang cerah.
Aku
ingin membahagiakan Ibu. Semua kenangan Ibu selalu melintas di benakku. Dulu... Ibu selalu ada di
sapingku, menjagaku, merawat dan menemani hari-hariku. Di saat aku pulang ke
rumah ibu selalu menantiku, mencium pipiku, dan menyiapkan makanan untukku.
Tapi sekarang, semua terasa sepi...!!!.
Ibu...
Aku
teringat ketika Ibu menetes air mata untukku. Ketika itu aku sedang tertidur
lelap di kesunyian malam. Gerak lembut tanganmu mengusap-ngusap rambutku seakan
memberi isyarat pada jiwaku untuk bangun dan memelukmu. Namun... Tatkala air matamu
menetes di dahiku, jiwaku terbenam dalam kesadaran, mataku tertutup tapi hatiku
sadar akan indahnya kasih darimu.
Usapan
lembut terus kurasakan bersama tutur pesanmu yang tersimpan di kalbuku. Tapi.... Kenapa ? ketika aku
ingin membahagiakanmu... Ibu menghilang dari hidupku. Aku tak kuasa bu...!! Aku
ingin bersama Ibu lebih lama lagi.”
“Astaqhfirullah hal azim”. Suara Irham
yang tersadar dari lamunannya. Irham mencoba menenangkan hatinya sembari
berkata :
“Maafkan
Irham Bu. Irham tidak bermaksud menyalahkan Ibu. Semua ini sudah ketentuan-Nya.
Irham harus ikhlas. Ibu jangan khawatir, Irham akan selalu merindukanmu lewat
untaian doa-doa yang selalu Irham kirim untuk Ibu. Ibu jangan merasa kesepian
karena kasih sayang rinduku akan selalu menerangi jalanmu. Walaupun ibu tak
bersamaku lagi, namun... batin dan jiwaku tak kan jauh darimu. Aku berjanji bu,
akan selalu membuat Ibu tersenyum di sana.
Terakhir
aku pohon pada-Mu
Ya
Allah...
Ampunilah
dosaku, dan dosa-dosa ibuku.
Sayangilah
ia, sebagaimana ia menyayangiku ... dan
Tempatkanlah
ia di surga-Mu
Amin...
Amin ya rabbal alamin.”
Karya
: Amrina (2 IPA 1)
